Thursday, June 21, 2007

Mendedah Sejarah Raden Saleh

Apakah Raden Saleh seorang pelukis yang berjiwa patriot? Ataukah ia seorang seniman didikan Belanda yang hanya mencintai diri-sendiri? Persoalan-persoalan seperti ini muncul dalam sebuah acara ceramah sehari mengenai pelukis Raden Saleh.

Diskusi Sehari, yang berlangsung di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta (18/5), merupakan bagian dari rangkaian acara “Mengenang Pelukis Raden Saleh (1807--1880)”. Berlangsung hingga 25 Mei, acara menyertakan pameran lukisan 11 pelukis asal Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta.

Kepala Museum Seni Rupa dan Keramik Sri Warso Wahono dalam pengantarnya menyebutkan, motivasi penyelenggaraan acara adalah untuk “penyadaran publik”, untuk “mengenang patriotisme dan heroisme Raden Saleh”. Namun, yang disebut belakangan inilah yang berkembang jadi fokus perdebatan diskusi.

Edy Sutriono selaku keynote speaker mengingatkan bahwa ada orang yang masih mempertanyakan nasionalisme Raden Saleh. Kolumnis yang lulusan Studi Seni Rupa ITB ini menunjuk lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) yang merupakan revisi dari lukisan karya pelukis Belanda.

“Bahkan anggapan bahwa Diponegoro seorang pahlawan nasional itu hanyalah mitos belaka,” ujar Edy, menambahkan bahwa Diponegoro dinilai berperang tidak demi membela tanah air, tapi demi kehormatan keluarga.

Tampaknya, uraian pemakalah utama Suwarno Wisetrotomo akan memperjelas sosok Saleh dalam sejarah. Sesuai keinginan Edy yang mengharapan adanya pemisahan antara mitos dan fakta sejarah, dosen FSR ISI Yogakarta ini memastikan tahun kelahiran Saleh yang selama ini berbeda-berbeda, yaitu 1807.

Suwarno membagi periodeisasi kehidupan Raden Saleh Syarif Bustaman menjadi empat, masing-masing dikaitkan dengan tema karya-karyanya. Pertama, periode dengan tema “Potret”, yang ditandai dengan kerapnya pelukis beraliran realisme ini menggambarkan tokoh-tokoh atau para pembesar, dan acap kali pada saat yang sama menulis surat permohonan bantuan keuangan kepada tokoh yang ia lukis.

Kedua, periode “Panorama”, yaitu kerinduan Saleh akan kampung halamannya ketika ia berada di Negeri Belanda. Saleh melukiskan Pemandangan Desa (tanpa tahun); Pemandangan di Gunung Merapi dan Merbabu (1870) sebagai penyaluran kerinduannya akan Tanah Jawa.

Tapi, Saleh yang direkomendasikan untuk belajar melukis di Negeri Belanda oleh pelukis Belgia AAJ Payen ini juga mencipta Schipbreuk atau Kapal Kandas (1840) dan Letusan Gunung Merapi Malam Hari (1865). Karya-karya ini menurut Suwarno menghadirkan ketegangan dan “drama alam semesta”, suatu antitesis terhadap anggapan bahwa lukisan Saleh melulu menyajikan keindahan yang harmonis menurut pengertian Mooi Indie.

Pergolakan batin Saleh semakin tampak dalam periode ketiga, “Binatang”, yang menurut Suwarno menunjukkan kematangan teknik dan ide. Di sini, Saleh mengekspresikan adegan yang menegangkan dan situasi kritis. Karya-karya yang menunjukkan hal itu adalah Antara Hidup dan Mati (1948) yang melukiskan pertarungan dua ekor singa melawan seekor banteng. Karya lainnya adalah Hutan Membara (tanpa tahun). Karya ini menggambarkan sekawanan binatang yang “bersatu” dalam suasana senasib, menyelamatkan diri dari jilatan api.

Suwarno menduga, periode ini mencerminkan eksistensi Saleh di tengah kekuatan bangsa lain, atau tentang bangsanya (bangsa Jawa) yang tengah berada dalam cengkeraman kolonialisme. Dosen pascasarjana yang disertasinya mengenai Raden Saleh ini juga menafsirkan, karya-karya itu menggambarkan pertarungan diri Saleh antara kalah dan menang, antara baik dan buruk.

Dalam periode keempat, “Kesadaran Posisi”, Saleh dinilai berhasil memadukan antara modal sosial, modal kultural, dan modal ekonomi secara ideal. Meski dinilai mampu mengalahkan pertarungan melawan diri-sendiri, kehidupan Saleh berakhir dengan kesepian. Ia pindah dari istananya yang mewah di Cikini, Jakarta ke desa Bondongan di kawasan Bogor. Di sinilah Saleh dan isterinya, Raden Ayu Danudirejo, dimakamkan.

Periode inilah yang menjadi argumen Suwarno untuk menunjukkan sikap patriotik Saleh. Pada 1857, contohnya, Saleh melukis Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan reiinterpretasi dari lukisan dengan tema yang sama karya pelukis Belanda Nicolas Pieneman. Sepintas, kedua versi lukisan itu sama saja. Tapi, ada beberapa perbedaan prinsip yang menunjukkan secara jelas pendirian Raden Saleh.

Lukisan Pieneman berjudul The Submission of Diponegoro (tanpa tahun), yang menunjukkan bahwa tokoh tersebut menyerahkan diri. Saleh melukis kembali kisah yang dalam sejarah disebut Perang Jawa (1825--1830) itu dalam ukuran yang lebih besar, 150 X 200 cm, dan memberinya judul, The Arrest of Prince Diponegoro.

Suwarno memperlihatkan perbedaan-perbedaan di antara kedua versi. Antara lain, setting gedung dalam karya Saleh tidak berada di sebelah kanan, tapi di sebelah kiri dengan meniadakan gambar bendera Belanda yang terdapat pada versi Pieneman. Adegan dan gerak tubuh Diponegoro juga menggambarkan kondisi melawan. Yang menarik, dan ini tak asing dalam lukisan-lukisan Saleh lainnya, terdapat potret diri sang pelukis dalam lukisan ini. Beberapa pengikut Diponegoro juga digambarkan berwajah Raden Saleh.

Menurut Suwarno, dalam karya Saleh terdapat pembelaan, keberpihakan, romantisme yang terkait dengan kesadaran eksistensi. Lebih dari itu, lanjut Suwarno, “adalah munculnya kesadaran politik sebagai orang Jawa.”

Harap maklum, Jawa adalah suatu entitas bangsa pada masa berdirinya negara kolonial Hindia Belanda, ketika nama “Indonesia” sama sekali belum dikenal. Karenanya, cukup beralasan jika sebagian kalangan berpendapat Saleh seorang patriot yang melakukan perlawanan --dengan caranya sendiri-- terhadap penjajah Belanda.

Tapi, bagi pemakalah Mamannoor, pihak Belandalah yang menemukan bakat dan menentukan masa depan Saleh sebagai pelukis terkenal. Anggota tim kurator di Galeri Nasional Indonesia ini justru mengajukan pertanyaan retorik, bagaimana peran pemerintah Indonesia terhadap Raden Saleh? Jika menyangkut masa lalu, kata Mamannoor, “Anak kecil pun bisa menjawabnya, pemerintah Indonesia waktu itu belum ada.”

Apabila berkenaan dengan masa kini, lanjut pengajar di FSRD ITB, “Kitalah yang tahu, pemerintah tak bakal mau tahu. Untuk masa depan? Mungkin sama saja. Pemerintah Indonesia belum menjadi patron bagi dunia kesenian. Bukankah Raden Saleh Syarief Bustaman hanya sekadar nama?”

Seorang peserta diskusi yang hanya dihadiri sekitar 20-an orang itu berpendapat, Raden Saleh tidak membangun komunitas dan solidaritas dengan sesamanya, karena itu ia tak pantas disebut tokoh sejarah. “Apakah Raden Saleh seorang yang solider ataukah solitaire?” ujar peserta yang berprofesi sebagai pelukis.

Adalah Amir Sidharta, tampil sebagai pembanding dalam acara diskusi, yang membenarkan pendapat Suwarno bahwa sejarah adalah masalah versi --mungkin karena itulah ada pelesetan “his-story (cerita dia) atau our story (cerita kita)?”. Maka, terhadap pertanyaan mengenai solidaritas Saleh, Amir juga mempertanyakan, “Apakah Van Gogh itu seorang yang solider ataukah solitaire?”

Menurut kurator dari Universitas Pelita Harapan ini, pada masa lalu para siswa terjebak dalam hafalan tentang peristiwa dan tokoh. Merujuk kepada pendidikan sejarah di Amerika Serikat tempat ia pernah menimba ilmu, Amir menyebutkan bahwa kini pelajaran sejarah di AS cukup menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana seharusnya agar suatu peristiwa buruk tak terjadi lagi pada masa yang akan datang.

Direktur Galeri Larasati ini juga menyayangkan adanya ajaran untuk tidak menanyakan apa yang sudah ada dalam buku teks. “Padahal, yang ada dalam buku teks sangat minim,” ujarnya.

Amir mengatakan, sejarah seni rupa kita masih sangat bayi, dan analisis visualnya masih sangat lemah. Ini masih diperlemah dengan keterbatasan sumber. Cari informasi di Perpustakaan Nasional saja, contohnya, lebih lama ketimbang mencari di internet.

Yang jelas, dalam acara Mengenang Pelukis Raden Salah ini, tak satu pun karya asli pelukis besar itu terpampang. Yang ada hanyalah karya reproduksi dan reproduksi atas foto karya. Karya asli ada yang tersimpan di Istana Negara, Jakarta. Ada pula yang menjadi koleksi pribadi seseorang yang kabarnya tinggal di Jakarta.

Mengenai ketokohan Saleh dalam sejarah seperti dipertanyakan seorang peserta, Suwarno mengingatkan bahwa sejarah bukan melulu kisah tentang orang-orang terkenal. Sejarawan Sartono Kartodirdjo, sebut Suwarno, telah memulai menulis sejarah tentang orang-orang “biasa” dengan bukunya Pemberontakan Petani Banten. Jika seorang petani adalah tokoh sejarah, apalagi seorang Raden Saleh yang, menurut Mamannoor, secara personal telah menularkan banyak pengetahuan lingkungan dan “ilmu perkara binatang” (zoologi) kepada beberapa orang, termasuk bupati Bandung RAA Martanegara.

Akhir hidup Saleh, menurut Suwarno, menunjukkan pelukis ini telah mengakhiri periode “Kesadaran Posisi” dengan kerinduan akan nilai-nilai religiositas dan keinginan kembali ke sangkan-paran (asal-usul). Pada akhir hayatnya, Saleh berupaya menemukan kembali nilai-nilai agama yang telah melandasi sikap patriotiknya, yang ditunjukkan dengan pergaulannya dengan tokoh-tokoh agama setempat. Suwarno mengutipkan berita dari koran Java Bode, 28 April 1880, yang ia peroleh dari Nyonya Harsyah W Bachtiar:

Kita poenja corespondent dari Bogor toelis kabar jang berikoet: pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnya Raden Saleh diiringi oleh banjak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer.

Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih: “... Awlloh hoema salim Awlloh sajidina Moehammad Rasoeloellah” ....

(agung puspito) - Yayasan Senirupa Indonesia